Jumat, 28 Januari 2011

DIA


Malam yang hangat. Malam yang membuatku harus bersembunyi takut di dalam selimutku, dan mulai menggigil kedinginan. Bulan, bintang, dan segala benda langit seakan tertawa melihatku tanpa badan dan hanya kepalaku yang keluar dari dalam selimut. Apakah mereka tak tahu kalau aku menanti sesuatu? Mereka hanyalah orang bodoh yang tak memilikki apa-apa sehingga mereka menertawakanku. Aku tak pernah peduli dengan mereka. Mereka hanyalah angin yang terus berjalan tanpa pernah meminta maaf kepada manusia yang telah mereka tabrak dan manusia takkan peduli akan itu. Akulah manusia dan merekalah angin, aku tak peduli. Kemarahanku dihentikan dengan bunyi alaramku yang kencang dan dengan segera mataku bergerak refleks ke arah jam dinding ungu itu. waktu menunjukkan pukul 00.00. aku membangunkan dia dari tidurnya di sampingku. Aku mengangkat tiramisu yang berhiaskan lilin merah dan menaruh di depannya.  

“Selamat ulang tahun sayang.  27 Oktober tahun lalu kau hadir tertawa bersama denganku aku masih ingat ketika itu kau menciumku dengan begitu mesra. Sebuah kecupan yang takkan pernah kulupakan. Ditambah lagi, kau masih sempat mengatakan kalau kau mencintaiku. 27 Oktober ini, kau juga hadir dan tertawa lagi bersamaku. Tapi apakah kau sudah bosan dengan mengatakan kalau aku sayang kamu? Tapi biarlah. Aku sayang kamu. Terima kasih sayang mau menemaniku.”


Ingin aku tunjukkan tiramisu ini kepada benda langit sehingga mereka tahu aku bukan orang bodoh seperti mereka. Aku tak tahu apa yang mereka tertawakan. Lagipula mereka hanya dibutuhkan ketika matahari mulai beristirahat. Aku? Aku selalu diperlukan setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap saat. Aku mulai berkata lagi,

“Sepertinya sudah saatnya kita dimanjakkan oleh kasur dan bantal ini. Tenanglah sayang, aku takkan pernah meninggalkanmu. Ayo kita tidur dan dengan cepat mengusir benda langit malam ini yang tak ada gunanya sama sekali. Selamat malam sayang. Semoga tidurmu nyenyak.”

Aku menarik selimut tebalku untuk menyelimuti aku dan dia. Aku memelukanya erat-erat, menciumnya dan tanpa sadar aku tertidur di pelukan dia yang bernama Teddy Bear.



Sabtu, 29 Januari 2011
02.07 WIB

Maryo Anugerah Sarong dan Dian Kusumo Hapsari

Kamis, 27 Januari 2011

HARAPAN!

Aku mengantungkan semua harapan keindahan padamu
Aku menitipkan serpihan padamu

Tetapi serpihan itu terpecah samudra
Permataku terpecah karena aku merasa kau hilang
Pintaku Ikhlas :
tolong kau asah serpihan itu dengan belai kasihsayangmu
ukirlah dengan pahatan tanganmu sendiri
Naungi permataku dengan kehangatan rindu
Hati memasrahkan kehendakmu
Aku hanya mencoba mempertahankan
Aku membuat benteng pertahanan, menahan kau untuk tak menjauh dariku
Sabarku menanti kau kembali seperti dulu
Kau yang selalu memberikan separuh waktu untuk bersamaku
Jangan buat aku mengubur semua indah yang pernah kurasa
Aku tak mau hanya membuka sebuah kotak kenangan
Kenangan yang belum cukup kurasa sepuluh bulan
Asalhlah permata yang ku titipkan
Agar kelak serpihan itu membentuk sebongkah permata dengan kilauan rasa tulus hatimu

 Dian Kusumo Hapsari dan Maryo Anugerah Sarong


SIAPA DIA?


Aku tak ingat dia
Kapan dia
Mengapa dia
Siapa dia

Melayang begitu jauh
Dalam mimpi yang keruh
Ingatan ini begitu rapuh
Tapi tak terbunuh

Kita terjatuh
Hayalanku rusuh
Kau tetap utuh
Kau pergi, tak patuh

Kembalikah dia
Kapan dia
Mengapa dia
Siapa dia


Kamis, 27 Januari 2011
22.26 WIB

Maryo Anugerah Sarong dan Dian Kusumo Hapsari


Rabu, 26 Januari 2011

PERPUSTAKAAN


Di manakah dirimu
Kau hilang, lebur demi waktu
Mimpi pun tak tahu
Angin pun jadi bisu

Mungkinkah kau mati
Tapi kau masih berhati
Tapi kau masih berjanji
Kapan bertatap, mungkin nanti

Aku tak tahu kau
Kau tak tahu aku
Dia bukan aku
Mereka bukan kau

Aku duduk menanti
Menyatakan mimpi
Di sini
Di perpustakaan ini.

Rabu, 26 Januari 2011
21.47 WIB

Maryo Anugerah Sarong dan Dian Kusumo Hapsari

Sabtu, 04 Desember 2010

Bulan


Ketika anda menjadi orang yang ingin hidup sendiri tanpa ada yang menasehati anda dan memberikan anda masukan terbaik, anda sebenarnya menginginkan sebuah hidup yang tenang, dan tak ada yang mengganggu anda. Anda sebenarnya memilih untuk tinggal di Bulan.
            Saya heran ketika saya mendengar teman saya dipanggil untuk mengklarifikasikan sebuah masalah. Apakah anda mau berkonsultasi dengan teman saya untuk memperbaikki masalahnya dengan baik-baik ataukah anda ingin membentak dia dengan kekuasaan anda karena dia membongkar kebodohan anda? Di situ saya bingung.Anda punya kekuasaan sekarang. Bisa saya samakan anda anda dengan pemerintah. Anda sangatlah malu jika ketahuan berbuat salah. Di mata anda, pemerintah selalu benar. Anda ingin selalu benar.  
Audi alteram partem, peribahasa latin ini saya berikan untuk anda yang ingin tinggal di bumi bersama makhluk sosial lainnya. Kami tahu anda adalah manusia, maka kami menyelaraskan kehidupan bersama anda dan begitu juga sebaliknya.  Saya tak tahu apakah sebenarnya anda mengerti tentang makhluk sosial itu sendiri atau tidak. Saya rasa anda sangat cocok dengan teori perubahan sosial Karl marx yang mengatakan perubahan sosial dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism). Kenapa saya menyangkutkan kehidupan anda dengan materialism, karena kekuasaan sangat berhubungan dengan ini.
            Thomas Aquinas (1225-1274) mengatakan, “ seorang penguasa Negara memilikki kewajiban – kewajiban terhadap Negara yang dikuasainya. Tugas penguasa yang utama adalah mengusahakan kesejahteraan dan kebajikan hidup bersama. Untuk itu penguasa dituntut untuk memungkinkan rakyat memenuhi kebutuhan – kebutuhan materialnya, diantaranya kebutuhan sandang pangan. Adalah kewajiban negara mengarahkan setiap kelas sosial dalam masyarakat untuk mencapai tujuan bersama itu”. Dengan kata lain, Thomas mau mengatakan bahwa dengan adanya kekuasaan manusia mendapatkan keadlian. Penguasa seharusnya justru menciptakan keadilan untuk masayarakatnya, bukan dengan kekuasaan itu dia hanya menginginkan keadilan sendiri dan tak memeikirkan rakyatnya. Setiap permasalahn diharpakan harus diselesaikan dengan adil.
            Penguasa yang saya milikki ternyata berbeda dengan apa yang diinginkan. Penguasa saya terlihat sangat manja. Tak mau ditemukan kesalahan dalam dirinya yangsebenarnya kesalahan itu adalah hal yang sangat fatal. Saya merasa heran dengan tindakan para penguasa. Saya tak tahu apakah mereka mengerti tentang arti manusia sosial itu sebenarnya atau tidak. Kita adalah manusia yang berpikir, maka kita mengkritik sebuah kesalahan yang merugikan banyak orang Cogito ergo sum. Dan pada akhirnya kami melakukan apa yang harus kami lakukan, Age quod agis. Jika mereka ingin terus bertahan dengan sikap ini, sebaiknya mereka ditendang ke luar dari komunitas dan hidup sendirian di Bulan.
(sebuah kekesalan saya terhadap kepemimpinan yang bodoh (saya tak tahu di mana itu, mungkin ada di suatu tempat dan mungkin ini pemikiran fiktif saya). Anda memaksa memakai sepatu berhak dan berjas lengkap untuk menyembunyikan kebodohan anda)

Sabtu, 04 Desember 2010
15.40 WIB


Maryo Anugerah Sarong dan Dian Kusumo Hapsari